Jadi hari minggu bulan lalu, aku pergi ke rumah kakakku yang tinggal di Tulungagung selama pandemi Covid 19 ini. Apa yang aku kerjakan selama lebih dari seminggu di sini? Tidak banyak selain tetap beradaptasi. Ya, aku sangat-sangat butuh banyak waktu untuk beradaptasi. Beberapa kali aku datang ke Tulungagung dan paling lama itu dua minggu. Itu sebenarnya bukan batas waktu aku harus kembali ke Malang tapi lagi-lagi karena susahnya aku beradaptasi dengan keluarga dari istri kakakku. Aku rasa jiwa bersosialisasiku sangat-sangat rendah. Alasan lainnya adalah ketidakcocokan dengan kakakku sendiri.
Kakakku semuanya laki-laki dan telah berkeluarga. Salah satu kakakku yang kusebutkan di atas jarak usianya denganku hanya tiga tahun. Entah kenapa sejak kecil kita selalu bertengkar hampir tentang apapun. Dan sebagai perempuan, juga yang paling kecil sudah pasti aku selalu kalah, kecuali kalau dibela orang tua.
Kuceritakan sedikit watak kami berdua sama-sama keras kepala dan tidak mau mengalah. Dan perselisihan kami terus berlanjut hingga saat ini. Meskipun begitu, aku sebenarnya menyayangi kakakku.
Jika membayangkan kakakku adalah teman sekelasku, sepertinya dia bukan orang yang akan kujadikan teman. Karena kami hampir berselisih tentang apapun. Aku sebagai seorang introvert tidak begitu pandai menjelaskan apa yang aku rasa/pikirkan ke dia. Apalagi kami berdua tidak pernah bicara serius. Jadi yang terjadi saat kami bertengkar adalah aku baru bicara satu kalimat dan dia sudah satu bab. Sudah pasti aku kalah.
Aku, di matanya adalah adik perempuan yang manja, cengeng, suka ngadu ke orang tua dan kekanakan. Saat aku salah, apapun yang kulakukan adalah salah.
Ada kata-kata kakakku bertahun-tahun lalu yang masih terekam jelas di ingatanku. Dia pernah bilang kalau aku adalah beban untuknya. Setiap kali mengingat itu aku selalu menangis. Aku tidak cerita ke orang tuaku, tidak ke siapapun.
Beberapa tahun yang lalu dia menikah dan saat ini telah memiliki seorang putra. Perselisihan di antara kita pun tidak berakhir. Kadang kita berbaikan dengan sendirinya tanpa ada kata "maaf" dan itu kuanggap biasa saja.
Tapi akhir-akhir ini aku merasakan yang lain. Dia masih menganggapku kekanakan. Dan kita masih tidak pernah bicara serius dari hati ke hati, sebagai adik kakak. Karena sampai aku menulis tulisan ini, dia tidak pernah mengajakku ngobrol berdua, menanyakan perasaanku atau menceritakan perasaannya. Pernah kudekati untuk bicara tapi dia malah bersikap dingin dan acuh. Lalu akupun mulai menghindarinya.
Yang membuatku benar-benar merasa sedih adalah dia melihatku dengan tatapan seperti melihat orang lain. Seperti orang asing yang tinggal di rumahnya. Aku kenal kakakku meski kami sering bertengkar tapi aku sangat yakin itu bukan tatapan kakak yang aku kenal. Apalagi tatapan seorang kakak untuk adiknya.
Aku merasa sangat asing di keluarga kakakku sendiri. Aku merasa mereka tidak mengenalku dan aku pun tidak mengenal mereka. Bahkan obrolanku dengan kakak hanya obrolan seperlunya, terutama di depan kakak ipar. Lebih-lebih di keluarga kakak ipar, aku makin merasa sendirian.
Aku tidak tau apakah dia membenciku? Dan setelah semua ini, aku rasanya ingin pulang.