Selasa, 03 November 2020

Bersaudara

 Jadi hari minggu bulan lalu, aku pergi ke rumah kakakku yang tinggal di Tulungagung selama pandemi Covid 19 ini. Apa yang aku kerjakan selama lebih dari seminggu di sini? Tidak banyak selain tetap beradaptasi. Ya, aku sangat-sangat butuh banyak waktu untuk beradaptasi. Beberapa kali aku datang ke Tulungagung dan paling lama itu dua minggu. Itu sebenarnya bukan batas waktu aku harus kembali ke Malang tapi lagi-lagi karena susahnya aku beradaptasi dengan keluarga dari istri kakakku. Aku rasa jiwa bersosialisasiku sangat-sangat rendah. Alasan lainnya adalah ketidakcocokan dengan kakakku sendiri.

Kakakku semuanya laki-laki dan telah berkeluarga. Salah satu kakakku yang kusebutkan di atas jarak usianya denganku hanya tiga tahun. Entah kenapa sejak kecil kita selalu bertengkar hampir tentang apapun. Dan sebagai perempuan, juga yang paling kecil sudah pasti aku selalu kalah, kecuali kalau dibela orang tua.

Kuceritakan sedikit watak kami berdua sama-sama keras kepala dan tidak mau mengalah. Dan perselisihan kami terus berlanjut hingga saat ini. Meskipun begitu, aku sebenarnya menyayangi kakakku.

Jika membayangkan kakakku adalah teman sekelasku, sepertinya dia bukan orang yang akan kujadikan teman. Karena kami hampir berselisih tentang apapun. Aku sebagai seorang introvert tidak begitu pandai menjelaskan apa yang aku rasa/pikirkan ke dia. Apalagi kami berdua tidak pernah bicara serius. Jadi yang terjadi saat kami bertengkar adalah aku baru bicara satu kalimat dan dia sudah satu bab. Sudah pasti aku kalah.

Aku, di matanya adalah adik perempuan yang manja, cengeng, suka ngadu ke orang tua dan kekanakan. Saat aku salah, apapun yang kulakukan adalah salah.

Ada kata-kata kakakku bertahun-tahun lalu yang masih terekam jelas di ingatanku. Dia pernah bilang kalau aku adalah beban untuknya. Setiap kali mengingat itu aku selalu menangis. Aku tidak cerita ke orang tuaku, tidak ke siapapun.

Beberapa tahun yang lalu dia menikah dan saat ini telah memiliki seorang putra. Perselisihan di antara kita pun tidak berakhir. Kadang kita berbaikan dengan sendirinya tanpa ada kata "maaf" dan itu kuanggap biasa saja.

Tapi akhir-akhir ini aku merasakan yang lain. Dia masih menganggapku kekanakan. Dan kita masih tidak pernah bicara serius dari hati ke hati, sebagai adik kakak. Karena sampai aku menulis tulisan ini, dia tidak pernah mengajakku ngobrol berdua, menanyakan perasaanku atau menceritakan perasaannya. Pernah kudekati untuk bicara tapi dia malah bersikap dingin dan acuh. Lalu akupun mulai menghindarinya.

Yang membuatku benar-benar merasa sedih adalah dia melihatku dengan tatapan seperti melihat orang lain. Seperti orang asing yang tinggal di rumahnya. Aku kenal kakakku meski kami sering bertengkar tapi aku sangat yakin itu bukan tatapan kakak yang aku kenal. Apalagi tatapan seorang kakak untuk adiknya.

Aku merasa sangat asing di keluarga kakakku sendiri. Aku merasa mereka tidak mengenalku dan aku pun tidak mengenal mereka. Bahkan obrolanku dengan kakak hanya obrolan seperlunya, terutama di depan kakak ipar. Lebih-lebih di keluarga kakak ipar, aku makin merasa sendirian.

Aku tidak tau apakah dia membenciku? Dan setelah semua ini, aku rasanya ingin pulang.

Rabu, 25 April 2018

PENGALAMAN PERTAMA KERJA

Hai, semua!

Hari ini adalah hari ke lima aku kerja dan untuk pengalaman pertama. Kerjanya sih cuma goreng/jual tahu. Untuk pertama kalinya berangkat dari jam 7 pagi dan pulang lebih dari jam 11 malam dan menghabiskan waktu di tempat jualan. Baru 5 hari sih, tapi badan udah pegal-pegal. Pengennya mengeluh terus, apalagi kalau dagangan gak laku. Tapi, "menjadi sukses tidak instan", setidaknya itu yang kakakku bilang. Bukankah semua berawal dari bawah.

Aku introvert. Dan sangat-sangat betah menghabiskan hari-hari di kamar kostku, sendirian. Sedikit berbicara dan kelamaan mikir. Tidak mudah akrab dengan orang kecuali orang yang sudah aku kenal. Tidak suka topik pembicaraan yang tidak penting.

Dan hari itu hari sabtu, 21 april, Erda sahabatku mengirim pesan lewat WhatsApp yang isinya dia menawarkan pekerjaan, maksudnya aku dan Erda sama-sama kerja di tempat yang sama. Aku langsung setuju karena memang ingin punya pengalaman kerja meski cuma goreng-goreng tahu tapi gapapalah. Semua orang di tempat kerja baik meskipun aku merasa terforsir. Jadi, selama 5 hari ini aku dan Erda pulangnya jam 12 malam dan membuat kita berdua hampir nyerah, terutama aku.

Tempat kerjaku di daerah jl. Ambarawa belakang kampus UM. Tempatnya rame, seisi jalan kebanyakan diisi mahasiswa, dekat rumah penduduk, banyak kost-kostan dan warung makan. Tapi tetap jualanku gak pernah habis 50 potong tahu. Okay, rejeki gak akan kemana.

Di sebelahku ada anak perempuan 18 tahun yang jualan jus. Pernah satu hari aku nonton video youtube 'GitaSav' dan dia tanya, "kamu nonton film?"
"Bukan, vlog."
"Vlog?"
"Iyaa, youtuber gitu?"
"Oh, kayak Awkarin?"

Jleb..
Kok Awkarin? Di antara sekian banyak youtuber kenapa yang di sebut Awkarin? Kenapa gak Raditya Dika? Jelas dia youtuber no. 1 di Indonesia. Okay, aku maklumi saja.

Terlepas dari itu semua ada hal paling aneh dan aku masih heran ada orang kayak gitu. Kita beri dia nama, Agus. Si Agus kerja juga meski kerjaan gak jelas dan bikin kita semua naik pitam gegara si Agus. Tadi malam dia bilang ke grup kalau Erda tidak mau ditinggal sendiri dan takut entah apa ditakuti dan Erda gak terima dibilang begitu jadi ributlah dia di grup. Sebenarnya Erda bukan tidak mau ditinggal tapi di tempat dia jualan memang agak tidak baik untuk perempuan sendirian di situ dan masalah ini sudah didiskusikan di awal tapi si Agus memang suka keluyuran gak jelas. Entah apa kerjaan dia sebenarnya. Kemarin aku bilang ke ibu, pemilik tahu, kalu supit besi di tempatku rusak dan ibu minta suruh si Agus benerin dan bilang di depan orangnya juga. Pas sudah di Ambarawa aku kasih tuh supit ke dia sambil aku siapkan penggorenģan. Gak sampai semenit kemudian si Agus kasih supit itu lagi. Aku liat gak ada perubahan. Mungkin si Agus lupa ingatan. Malamnya aku bawa pulang supit ke rumah ibu buat ditunjukkin ke ibu. Di sana semuanya lagi berkumpul termasuk sepasang suami/istri yg juga jualan tahu punya ibu. Waktu aku kasih supit ke ibu, ibu tanya gak suruh si Agus benerin? Dan kujawab saja sudah buu.. sambil sedikit memelas untuk tetap sabar dan tau ga si Agus bilang apa? Dia bilang dikiranya itu penggorengan. Lah? Bagaimana bisa? Orang dia tadi saja gak periksa penggorengan. Dan malam itu diakhiri dengan usulan pindah salah satu tempat jualan ke daerah Tirto, si Agus ikut-ikutan ngomong, pindah saja ke alun-alun kalau gak kuat, tinggal lambaikan tangan. Seisi rumah ketawa semua. Aku, ha ha he he.. pasang muka ketawa tapi asli ini garing banget. Aku gak tau apanya yang lucu. Agak maksa sebenarnya tapi gak enak juga kalau cuma aku sendirian yang mingkem. Si Agus ini orangnya cerewet, tingkahnya kayak anak kecil. Awalnya aku kira dia normal kayak manusia pada umumnya, ternyata freak abisss! Pernah dia ngomong ke aku dan Erda, entah ngomong apa, cepat-cepat aku bilang "Sstttttt! Diam."

Yah, aku bilang begitu, sebelum otakku pecah dengar ocehan dia. Dan semoga si Agus segara insaf atau tidak dikembalikan ke tempat sirkus.

Dan semoga aku masih bisa bertahan sampai gajian pertamaku.

Selasa, 14 November 2017

Pertama

Jadi blog ini dibuat karena aku butuh tempat untuk menulis sebagian hal yang mungkin tidak aku ceritakan ke orang lain, karena manusia itu ada dua tipe. Tipe pertama, dia mendengar karena dia sebenarnya ingin menjadi pendengar untukmu dan tipe kedua adalah dia mendengar tapi sebenarnya dia tidak benar-benar peduli. Hak semua orang sih, siapa ingin dia dengar dan siapa yang ingin dia acuhkan. Sebagaimana setiap orang berhak berpendapat dan menyampaikan pendapatnya, demikian pula yang mendengarkan memiliki hak yang sama.

Maka dari itu, blog ini aku buat. Isinya mungkin akan random dari curcol sampai hal gak jelas sekalipun. Tapi setidaknya tidak ada yang protes dan yang penting bisa bahas apapun sebebasnya tanpa perlu ngomong ke orang.

Mari berpetualang!