Hari ini adalah hari ke lima aku kerja dan untuk pengalaman pertama. Kerjanya sih cuma goreng/jual tahu. Untuk pertama kalinya berangkat dari jam 7 pagi dan pulang lebih dari jam 11 malam dan menghabiskan waktu di tempat jualan. Baru 5 hari sih, tapi badan udah pegal-pegal. Pengennya mengeluh terus, apalagi kalau dagangan gak laku. Tapi, "menjadi sukses tidak instan", setidaknya itu yang kakakku bilang. Bukankah semua berawal dari bawah.
Aku introvert. Dan sangat-sangat betah menghabiskan hari-hari di kamar kostku, sendirian. Sedikit berbicara dan kelamaan mikir. Tidak mudah akrab dengan orang kecuali orang yang sudah aku kenal. Tidak suka topik pembicaraan yang tidak penting.
Dan hari itu hari sabtu, 21 april, Erda sahabatku mengirim pesan lewat WhatsApp yang isinya dia menawarkan pekerjaan, maksudnya aku dan Erda sama-sama kerja di tempat yang sama. Aku langsung setuju karena memang ingin punya pengalaman kerja meski cuma goreng-goreng tahu tapi gapapalah. Semua orang di tempat kerja baik meskipun aku merasa terforsir. Jadi, selama 5 hari ini aku dan Erda pulangnya jam 12 malam dan membuat kita berdua hampir nyerah, terutama aku.
Tempat kerjaku di daerah jl. Ambarawa belakang kampus UM. Tempatnya rame, seisi jalan kebanyakan diisi mahasiswa, dekat rumah penduduk, banyak kost-kostan dan warung makan. Tapi tetap jualanku gak pernah habis 50 potong tahu. Okay, rejeki gak akan kemana.
Di sebelahku ada anak perempuan 18 tahun yang jualan jus. Pernah satu hari aku nonton video youtube 'GitaSav' dan dia tanya, "kamu nonton film?"
"Bukan, vlog."
"Vlog?"
"Iyaa, youtuber gitu?"
"Oh, kayak Awkarin?"
Jleb..
Kok Awkarin? Di antara sekian banyak youtuber kenapa yang di sebut Awkarin? Kenapa gak Raditya Dika? Jelas dia youtuber no. 1 di Indonesia. Okay, aku maklumi saja.
Terlepas dari itu semua ada hal paling aneh dan aku masih heran ada orang kayak gitu. Kita beri dia nama, Agus. Si Agus kerja juga meski kerjaan gak jelas dan bikin kita semua naik pitam gegara si Agus. Tadi malam dia bilang ke grup kalau Erda tidak mau ditinggal sendiri dan takut entah apa ditakuti dan Erda gak terima dibilang begitu jadi ributlah dia di grup. Sebenarnya Erda bukan tidak mau ditinggal tapi di tempat dia jualan memang agak tidak baik untuk perempuan sendirian di situ dan masalah ini sudah didiskusikan di awal tapi si Agus memang suka keluyuran gak jelas. Entah apa kerjaan dia sebenarnya. Kemarin aku bilang ke ibu, pemilik tahu, kalu supit besi di tempatku rusak dan ibu minta suruh si Agus benerin dan bilang di depan orangnya juga. Pas sudah di Ambarawa aku kasih tuh supit ke dia sambil aku siapkan penggorenģan. Gak sampai semenit kemudian si Agus kasih supit itu lagi. Aku liat gak ada perubahan. Mungkin si Agus lupa ingatan. Malamnya aku bawa pulang supit ke rumah ibu buat ditunjukkin ke ibu. Di sana semuanya lagi berkumpul termasuk sepasang suami/istri yg juga jualan tahu punya ibu. Waktu aku kasih supit ke ibu, ibu tanya gak suruh si Agus benerin? Dan kujawab saja sudah buu.. sambil sedikit memelas untuk tetap sabar dan tau ga si Agus bilang apa? Dia bilang dikiranya itu penggorengan. Lah? Bagaimana bisa? Orang dia tadi saja gak periksa penggorengan. Dan malam itu diakhiri dengan usulan pindah salah satu tempat jualan ke daerah Tirto, si Agus ikut-ikutan ngomong, pindah saja ke alun-alun kalau gak kuat, tinggal lambaikan tangan. Seisi rumah ketawa semua. Aku, ha ha he he.. pasang muka ketawa tapi asli ini garing banget. Aku gak tau apanya yang lucu. Agak maksa sebenarnya tapi gak enak juga kalau cuma aku sendirian yang mingkem. Si Agus ini orangnya cerewet, tingkahnya kayak anak kecil. Awalnya aku kira dia normal kayak manusia pada umumnya, ternyata freak abisss! Pernah dia ngomong ke aku dan Erda, entah ngomong apa, cepat-cepat aku bilang "Sstttttt! Diam."
Yah, aku bilang begitu, sebelum otakku pecah dengar ocehan dia. Dan semoga si Agus segara insaf atau tidak dikembalikan ke tempat sirkus.
Dan semoga aku masih bisa bertahan sampai gajian pertamaku.